Wedang Ronde

-Cerita Kecil-

Semalam rame-rame diajak ngeronde. Apa sih asyiknya minum wedang ronde? Di tepi jalan lagi?

Wedang ronde itu minuman hangat dari jahe dengan gula merah manis yang ditambah sesuatu yang khas, yakni bola sagu isi kacang. Bila di minum malam-malam akan menambah kehangatan tubuh.

Ah, minum manis malam-malam gak bagus untuk diet. Iya sih, tapi aku tidak bisa melewatkan kehangatan lain, yakni perjumpaan dengan teman-teman.

Nah, asyiknya minum ronde itu memberi kehangatan persaudaraan itu.

Ya, semua rindu persaudaraan. Apalagi di tengah jaman yang digerus serba mesin dan digital, bahkan di lingkungan suci pelayanan gereja, persaudaraan bisa mudah retak oleh perkara sepele. Ladang pelayanan bisa menjadi ladang perseteruan.

Mengapa itu mudah terjadi bahkan di lingkup keluarga? Barangkali karena kita terjebak dalam dinamika kerja seperti mesin. Pelayanan juga masuk ke mesin. Harus ada out put yang bisa diukur. Semua lalu kejar hasil, mesti hati dikorbankan dan menjadi kerdil. Hilang waktu dan kesempatan duduk bersama untuk sekedar bercengkerama. Kalau bertemu toh hanya sekedar tanya hasil kerjanya.

Kalau toh ada, itu pun barangkali sambil meringis menjawab tanya kapan lagi rapat kerja ? Kapan selesai targetnya? Sampai dimana urusannya?

Kapan hati kita saling menyapa dan disapa? Ah, pertanyaan sok suci ini. Itu kekanak-kanakan. Dunia dewasa itu kerja, produktif gitu. Jangan melankolis. Manja ah…

Tentu bukan salah juga itu. Memang dunia mesin selalu dituntun hasil. Bermelo-melo, apalagi bisa nongkrong minum wedang ronde ah itu buang waktu gue.

Hmm…perjumpaan yang otentik memang sering terjadi di momen yang dianggap “buang waktu”. Di saat kita bisa rileks, tertawa dan menangis dengan bebas.

Hari-hari kita itu seperti bunga di padang. Pagi mekar, sore bisa cepat layu. Tetapi berbahagialah yang bisa menangkap singkatnya waktu. Kesementaraan itu berharga justru ketika aku dan kamu, kita semua, bisa hidup mekar sepenuh kalbu. Bunga mekar memberi keindahan dalam singkatnya waktu. Persaudaraan kita memberikan sukacita dalam sementaranya hidup di dunia kita.

Berbahagialah yang setia dalam karya-karya yang baik dan dalam pelayanan, meskipun ketidaksempurnaan dan kelemahan sering membuat kita kecewa.

Salam kasih persaudaraan.

eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *