Ranting Tanjung Kering

-Cerita Kecil-

“Ranting Tanjung Kering”

Di taman ada pohon tanjung yang disukai burung-burung untuk bersarang. Bukan hanya burung yang suka, juga tupai-tupai pun kelihatan gembira karena buahnya yang kecil ada sepanjang tahun. Ketika pohon-pohon sekitarnya sudah tidak berbuah, pohon tanjung masih memberikan buahnya yang sangat kecil-kecil.

Pohon tanjung biasa ditempatkan di taman atau pelataran depan rumah, bukan hanya untuk perindang dan pengasri, tetapi bisa dipakai untuk menghadirkan lambang keramahtamahan (hospitality). Mengapa?

Kalau boleh dikeratabahasakan, tanjung itu “tresna jinunjung”. Maksudnya, bisa kita artikan tanaman itu menyambut setiap orang yang datang dengan menjunjung hormat, bukan permusuhan. Setiap orang yang datang disambut. Setelah merasakan disambut, setiap tamu yang hadir diharapkan krasan.

Begitu juga harapan bagi orang muda yang datang, bukan hanya krasan tetapi lalu terpikat hatinya menanggapi panggilan Tuhan untuk tinggal menjadi bagian dalam persekutuan dan perutusan yang sama.

Pagi ini tampak ada ranting pohon tanjung yang patah dan jatuh karena memang sudah kering. Padahal kayu tanjung itu termasuk kayu yang sangat keras. Toh demikian, begitu kering, ia pun patah.

Yang namanya ranting memang tidak bisa hidup lepas dari batang pohon. Begitu lepas, yah hanya menjadi kayu bakar.

Kiranya hidup kita pun tak ubahnya sebagai ranting. Hidup kita bergantung pada Sang Sumbernya. Lepas dari sumber itu, hidup kita tidak ada dayanya, dan layu lalu mati ditelan bumi.

Menyadari kenyataan itu, masa pandemi corona ini menjadi kesempatan kita untuk semakin dekat dan bersatu dengan Sang Pemberi hidup. Sewaktu-waktu hidup kita dicabut, dan bagai kayu kering rontok. Sebelum rontok, semoga masih bisa berbuah.

Seperti juga pohon tanjung, yang bisa melambangkan “hidup dijunjung”, selama masih bernafas, alangkah indahnya masih bisa saling menyanjung, menghormati dan berempati.

Adalah kesombongan belaka, kita mengatakan, “Aku tak butuh itu.” Sedingin-dinginya cinta, sekering-keringnya kasih sayang, pujian dan dukungan, perhatian dan bantuan, tetaplah masih perlu dihadirkan sebagai ungkapannya.

Ranting kering itu masih tergeletak di bawah pohon tanjung. Tupai masih berlari berkejaran di dedahanan. Kegembiraan masih ada meskipun si kering telah terjatuh tidak berdaya. Alangkah bahagianya ranting dan dahan yang masih bisa menjadi tempat bermain dan bercanda burung dan tupai di sana.

Bahagia itu memberi ruang hidup bagi sesama.

13 Mei 2020
Salam sehat
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Masih suka belajar menulis;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *