Rabu Abu

-Katekese Singkat-

“Quaresima” & Rabu Abu

Masa persiapan Paskah disebut juga masa Prapaskah. Dalam bahasa Latin disebut “Quaresima” atau “Quadragessima” yang artinya 40 hari sebelum Paskah. Ini mengingatkan juga masa 40 tahun bangsa Israel berada di padang gurun sebelum masuk tanah terjanji.

Bagi kita, masa 40 hari sebagai masa retret pertobatan yang diawali dengan menandai diri kita dengan abu.

Mengapa abu?

Abu mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu dan dihembusi nafas ilahi (Kej. 2:7).

Abu mengingatkan asal manusia yang rendah, tak berharga di mata Tuhan namun Tuhan telah berkenan mengangkatnya. Maka, berkat Roh Allah yang menghidupkan, manusia itu pada hakekatnya luhur dan mulia.

Meskipun manusia terikat pada debu sebagai asalnya, namun manusia mampu menempatkan keterikatan itu secara tidak mutlak. Semua keterikatan pada dunia itu sarana bagi kita untuk hidup memuliakan Allah.

Nah, dalam rangka itu, doa, puasa dan amal kasih menjadi latihannya.

Pantang dan puasa adalah sarana latihan untuk tidak melulu tergantung pada pemenuhan kebutuhan makan dan minum.

Doa adalah sarana latihan untuk terus menerus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Doa adalah sikap keterbukaan untuk mengikuti tuntunan Roh Allah. Ingat, kita hidup karena diberi nafas ilahi.

Amal kasih adalah sarana hidup selaras dengan kehendak Allah. Apa kehendak Allah itu? Kehendak Allah itu hanya mengasihi. Jadi kalau mau selaras dengan kehendakNya, hiduplah dalam jalan kasih. Sebab, Allah itu kasih! “Deus caritas est.”

Jadi masa Prapaskah adalah mssa kita kembali pada Allah, pada jati diri kita sebagai makhluk rohani, dan sebagai anak-anak Allah.

Abu mendai pengakuan diri kita yang rendah, melulu bergantung pada roh Allah. Tidak ada sikap tobat yang tepat kecuali merendahkan diri kita.

Selamat menjalani padang gurun pertobatan kita agar masuk kembali menjadi bagian dari anak-anak Allah yang akan kita rayakan pada Paskah nanti.

“Gloria Dei, vivens homo” (St. Ireneus). Allah dimuliakan ketika kita sungguh hidup sebagai manusia. Maka, semakin manusiawi, semakin ilahi.

Salam pertobatan
eMYe

ditulis oleh eMYe –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *