PAROKI ST. ISIDORUS SUKOREJO

90  TAHUN BAPTISAN PERTAMA

“Diutus Mewujudkan Peradaban Kasih”

Tidak Secara Tiba-Tiba

Pada tahun 1927 di Sukorejo terjadi pembaptisan seorang bayi, Yang membaptis adalah seorang pastor/romo dengan arsip tercatat. Inilah dipakai sebagai pijakan adanya Gereja (paroki). Kemudian di sekitar tahun 1930 terjadi pembaptisan yang dilakukan orang awam. Istilah sekarang itulah tindakan pastoral dan kerasulan awam.

Paroki St. Isidorus Sukorejo dikenal sebagai paroki desa karena wilayah perkebunan dengan tradisi kuat masyarakat tani dan buruh. Dengan proses yang panjang, orang di pedesaan menjadi Katolik. Hal yang biasa (Jawa: Pakulinane) kalau masyarakat di pinggir hutan hidup dari mengambil apa yang ada di kebun yaitu kayu bakar, kopi, cengkeh sisa, mungkin juga batang kayu yang dapat dijual. Tak heran jika muncul istilah miring, mencuri kayu.

Dalam pastoral penggembalaan umat; tidak bijaksana jika kita mencaci-maki, memarahi umat karena masalah kebiasaan tersebut tanpa memberikan jalan keluar yang nyata. Lebih baik masuk dalam kesulitan umat, pelan-pelan mendidik mereka dengan menanam pohon sengon, pohon buah-buahan, atau yang lain.  Bersama dengan mereka berproses.

Jika dulu ada kesan, ”paroki Sukorejo bagaikan “gerobag rodanya segi empat,” maka sekarang apakah masih demikian?

Dalam berproses bersama ini, penambahan jumlah umat katolik tidak menjadi prioritas utama. Yang penting “dadia wong kang apik, becik, wong kang utama, urip rukun karo tangga teparo”, saling menghargai pada keyakinan atau agama masing-masing. Guyub membangun masyarakat demi kesejahteraan bersama dan menjadi garam dunia. Saya juga melihat semangat umat di wilayah dan stasi, bersama-sama membangun infrastruktur tanpa memandang agama. Berbicara perihal Asrama Manik Hargo, asrama adalah tempat pembinaan dan calon pemimpin umat. Sopan santun, tata krama, tata tertib, kedisiplinan, kejujuran, mandiri, saling menghargai, keterlibatan dalam Ekaristi, ditanamkan pada anak-anak asrama.

Sekali lagi, kesetiaan pada proses itu penting. Karya Roh Kudus tidak tiba-tiba mak bedunduk, namun melalui proses. Dalam proses ini, kita patut bersyukur bahwa dari paroki ini ada benih panggilan imamat, imam, bruder, dan suster. Namun mengubah mentalitas umat, pemeliharaan umat ke dalam, membangun iman kristiani, membangun persaudaraan sejati, mewujudkan peradaban kasih tetap menjadi tanggung jawab kita bersama. Renovasi kapel di lingkungan sudah selesai dilakukan. Saatnya kita bersama-sama memelihara dan menjadikannya tempat berdoa. Pendampingan PIR, PIA, KPP, PD Karismatik, Paguyuban Priya Sejati, Waberkat, pun tidak boleh diabaikan. HAK, Natalan bersama umat Kristiani tingkat Kabupaten Kendal, Natal dan Paskah Tingkat Rayon KERIS, Peringatan HPS dilaksanakan oleh umat paroki. Berbagai pelayanan peribadatan dan misa serta pelayanan sarasehan Jumat Kliwonan dan Selasa Kliwonan telah menjadi kegiatan rutin umat. Aksi sosial, kemanusiaan: bingkisan sembako, donor darah, pengobatan gratis, bantuan pembuatan MCK bagi warga masyarakat, dan Credit Union menjadi kehadiran nyata umat di tengah masyarakat. Untuk menyambut perayaan ini kita melakukan Novena Paroki; “Syukur: Diutus Mewujudkan Peradaban Kasih”, supaya batin kita juga turut  disiapkan. Akhirnya, saya berharap, bersama umat separoki, kita bersama bisa memasuki Ardas KAS 2016-2020 dan RIKAS 2035 sehingga terwujud umat yang cerdas, tangguh, missioner, keluarga grengseng, lingkungan dan kelompokgayeng, melu cawe-cawe dalam masyarakat; pelayanan karitatif, dan berdayanya kaum kecil, lemah, miskin di sekitar Paroki St. Isidorus Sukorejo.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menyadur tulisan almarhum Rm. Mangunwijaya, Sang Begawan Burung Manyar yang menulis UNSUR PANCAPRAMANA sebagai bahan refleksi kita bersama:

  1. Sekompak apa komunikasi dalam dan antar umat paroki terjadi? Bagaimana umat saling kontak, saling menanggapi, saling reaksi, saling merespon, hingga hal ihwal apapun mereka hayati bersama?
  2. Seguyub mana umat paroki saling melakukan kesetiakawanan atau solidaritas?. Kesetiakawanan tampak dalam segala peristiwa umat yang menggembirakan maupun dalam kesulitan. Sebagai ilustrasi: seorang ayah tidak akan berjalan terlalu cepat bila ia tahu, bahwa isterinya atau anaknya punya langkah pendek. Di sisi lain sang isteri akan berusaha mempercepat langkahnya, dan bila perlu si anak kecil digendong saja.
  3. Sehangat mana kewibawaan kepemimpinan umat disegani, dipatuhi tetapi juga disayangi, dicintai?
  4. Sebebas apa dalam kerja sama melakukan introspeksi, refleksi, untuk penyehatan kembali hal-hal yang kurang lancar? Perlu diperhatikan proses kaderisasi, peremajaan kepimpinan. Sejauh mana umat mau, sanggup, dan rela berkorban,solider satu dengan yang lain?

Ini semua dilandasi oleh iman, harapan serta cinta kasih kristiani

(*=detak jantung, jiwa, mata ukuran)

Sukorejo, 6 Agustus 2017

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya.

Th. Budiarsa – Tokoh umat Paroki St. Isidorus Sukorejo

-diambil dari Buku Kenangan 90 tahun Paroki St. Isidorus Sukorejo-

Masih suka belajar menulis;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *