Laba Laba Hijau

-Cerita Kecil-

Pagi itu aku berangkat ke kebun belakang. Aku mau membantu yang bertugas merawat kebun.

Aku pilih sepetak kebun sayuran. Aku dengan pelan mulai mencangkuli, membersihkan rumput liar yang sudah tinggi.

Eh, ternyata aku masih bisa mencangkul lohūü§£. Tangan tidak lecet juga. Tetapi setelah satu petak cukup bersih, aku mulai berkeringat banyak. Pandangan kunang-kunang. Ah harus istirahat dulu nih, kataku. Sambil mengusap keringat, aku pandang sekeliling.

Tiba-tiba aku terkejut melihat apa yang di depan mataku. Seekor laba-laba hijau sebesar ibu jari sedang nongkrong di jaring tengahnya.

Waduh, kalau wajahku nabrak dia, apa jadinya nih, aku berkata dengan diriku sendiri. Untung tidak kena.

Lalu kuamati dia. Hijau campur hitam, ada putih peraknya. Sedang apa ya? Tidurkah? Heran juga, orang sibuk di dekatnya kok merasa tidak terusik. Tetap diam bertengger di sarang yang berupa jaring-jaring yang menghubungkan dari daun yang satu ke daun tanaman yang lain. Tak terusik.

Barangkali dia sedang menunggu mangsa masuk ke jejaring jebakannya, sehingga ia bisa memakannya. Lah, emang aku sedang dijebak? Haha, mosok orang bisa dijebak laba-laba. Akulah yang akan lebih dahulu meremukkannya.

Ah, tapi kuurungkan niatku. Laba-laba itu mungkin menjebak nyamuk kebun. Itulah makanannya.

Kulihat lagi. Kuamati. Aku jadi ingat pengalaman: dulu aku pernah kena cairan yang dikeluarkan laba-laba. Waktu itu persis jatuh di wajahku. Panas rasanya di kulit. Sembuhnya lama, dan meninggalkan bekas seperti luka bakar.

Kuusap wajahku. Ah, syukur tidak kena semprotan laba-laba lagi. Tetapi sayang wajahku kena lumpur tanah basah yang menempel di tangan.

Alam yang indah itu ternyata juga menyimpan hal yang menakutkan. Selalu ada predator yang siap memangsa yang lemah. Laba-laba memangsa nyamuk dan serangga yang lain.

Alam manusia juga tida sepi dari predator. Instinct kebinatangan manusia pada dasarnya untuk sekedar upaya survival juga. Tetapi apakah manusia hidup hanya sekedar untuk survive? Kalau hanya untuk mempertahankan hidup, apa bedanya manusia dengar binatang di alam bebas ini?

Apakah manusia membangun jejaring pertemanan untuk mendapatkan mangsa yang lebih lemah? Apakah membangun persaudaraan dan solidaritas hanya untuk membesarkan daya predatornya lebih hebat?

Laba-laba hijau di kebun itu memang gagah dan anggun, tetapi manusia lebih daripada laba-laba itu. Manusia nisa membangun jejaring pertemanan dan persaudaraan bukan untuk menjadi predator. Manusia bersahabat karena manusia mampu mencintai, mengasihi, menghibur, saling dan membantu. Jejaring kasih manusia itu menguatkan yang lemah dan tak berdaya, bukan malahan memperdaya.

“Apa yang kaulakukan pada yang paling lemah, kau lakukan itu padaKu.” (bdk.Mt 25:40)

Jadi kalau kita menindas yang lemah, kita melakukan itu pada Tuhan sendiri.

Kuingat kata-kata Yesus itu. Kubawa dalam hati. Manusia itu bukan predator. Manusia itu “co-creator” dan “co-lover” (rekan sekerja Allah yang mencipta dan mengsihi seluruh alam ciptaanNya).

Salam kasih sayang.
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *