Pilangsari: Perayaan Syukur Panen Hasil Bumi 2018

IMG-20180711-WA0148
Persembahan hasil bumi sebagai wujud syukur.

PILANGSARI- “Bersyukur dengan membangun peradaban cinta”, mungkin semboyan itu yang pantas dilekatkan kepada umat St. Yusuf Pilangsari. Dalam segala kesederhanaannya, mereka berusaha bersyukur atas hasil panenan yang telah diterimanya. Bersama dengan seluruh umat dan warga masyarakat Dusun Pilangsari mereka mengadakan Perayaan Syukur Panen Hasil Bumi untuk yang pertama kalinya pada hari Rabu, 11 Juli 2018.

Sebagai umat yang beriman kepada Kristus, mereka mengawali segala rasa syukur dengan mengadakan Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Rm. Paulus Agung Wijayanto, SJ dan Rm. Thomas Septi Widhiyudana, SJ, serta dihadiri oleh Frater Beni dari Keuskupan Tanjung Selor yang sedang belajar hidup bersama warga Pilangsari selama 3 hari.

Perayaan Ekaristi yang dipahami sebagai “atur panuwun” oleh umat Pilangsari ini dihadiri oleh seluruh umat beserta para tamu undangan yang berasal dari umat lingkungan sekitar (Ngampel, Gemuh, Krandegan, Sukorejo) dan juga Dewan Paroki St. Isidorus Sukorejo.

Dalam khotbahnya Romo Agung mengingatkan bahwa apa yang kita syukuri dan terima ini merupakan pemberian dari Tuhan sendiri, selanjutnya beliau menekankan akan pentingnya beryukur dalam segala hal, dan berharap tradisi syukur hasil panen ini bisa dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya dan oleh lingkungan lain.

Romo Agung mengajak kita sebagai puta-putri Allah yang dicintai dan dipercaya untuk bekerja bersama dengan Allah sendiri, serta terlibat untuk membagikan kemurahan Allah untuk sesama.

Hal lain  yang pantas disyukuri adalah St. Isidorus sebagai pelindung Paroki merupakan seorang petani, sekali lagi Romo Agung mengajak untuk juga memohon berkat dan lindungan melalui Litani St Isidorus  sebagai pelindung Paroki.

“Dengan bersyukur bersama semua orang lintas batas, kita mau membangun tradisi peradaban kasih di masyarakat”

 

Kesenian Kuda Lumping “Turonggo Jati” Dusun Pilangsari

Warga masyarakat Dusun Pilangsari ikut berbahagia dan bersyukur dengan menggelar Kesenian Kuda Lumping yang dimainkan oleh anak-anak serta para pemuda dusun Pilangsari. Tidak ada lagi perbedaan yang terlihat, semua berbaur menjadi satu keluarga, sama seperti tujuan awal didirikan Kapel St. Yusuf. Kapel St. Yusuf diharapkan bisa menjadi tempat berkumpul dan membangun suatu komunitas serta keluarga bagi warga masyarakat Dusun Pilangsari. Warga terlihat bahagia dan menikmati seluruh pertunjukkan hingga malam hari. (SD)

 

Galeri Foto 

Perayaan Ekaristi

 

Ramah Tamah

 

Kesenian Kuda Lumping Turonggo Jati

 

Video

Perayaan Ekaristi

Kesenian Kuda Lumping Turonggo Jati 

 

Dibuang Sayang,,,,

IMG_20180711_122540

 

(foto &video pakai HP jelek oleh: sita, agus, pak yayang)

 

 

 

 

Masih suka belajar membuat liputan;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Gereja Katolik St Isidorus Sukorejo dan kegiatannya, tahun 70-an

Mohon bantuannya ibu / bapak yang sekiranya tau tentang info foto – foto di atas. Terima kasih

Masih suka belajar membuat liputan;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Asrama Manik Hargo pada jamannya

Asrama Manik Hargo masa lalu.

Masih suka belajar membuat liputan;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Karnaval Kecamatan Sukorejo 2017

Rombongan Karnaval Gereja Katolik St. Isidorus Sukorejo

Gereja Hadir Untuk Melayani Dengan Kasih

Sembilan puluh tahun, bukan usia sudah matang, namun juga bukan sebentar. Gereja Katolik Santo Isidorus Sukorejo, selama ini sudah membaktikan diri untuk melayani sesama.

Hadir diantara masyarakat dengan banyak keyakinan, umat Gereja berusaha memberikan yang terbaik, menjunjung tinggi toleransi dan tidak menutup mata terhadap kaum miskin dan lemah.

Sebagai umat yang baik, kita tetap menunjukkan budaya leluhur, menjaga dan melestarikannya.

Sembilan puluh tahun lamanya sejak Paroki Santo Isidorus berdiri, sudah banyak yang kami lakukan, namun masih banyak juga yang harus kami lakukan.

Kami hidup dengan cinta kasih, berbuat yang terbaik dengan cinta kasih, dan disambut dengan cinta kasih pula, karena demikianlah yang diajarkan Tuhan, untuk senantiasa memberikan kasih dan kedamaian.

Sembilan puluh tahun lamanya kami bersama masyarakat dan sampai saat ini kami masih diijinkan untuk tetap berkarya.

Kami bersyukur, marilah kita mewujudkan peradaban kasih.

Terimakasih Tuhan, terimakasih saudara-saudara, terimakasih Indonesia.

Masih suka belajar membuat liputan;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.

Kapel St Damianus Plantungan

Masih suka belajar membuat liputan;

masih juga suka ambil foto & video pakai HP jelek.