Doa Maria Saat Yesus Menderita

-Kontemplasi-

(Di sudut biliknya, Maria terpaku diam dalam doa, setelah mendengar berita Yesus ditangkap. Batinnya bergumul dalam diam, dalam doa.)

Ya Tuhan, inikah misteriMu yang harus kukandung terus, melihat PuteraMu didera berbagai hasutan dan pengkhianatan, penolakan oleh bangsaku sendiri.

Kuingat kembali salam malaikat dulu kepadaku, yang kini terasa seperti sebilah belati menusuk hatiku pedih.
Aku telah menjawabnya, ya aku ini hambaMu, seluruh diriku milikMu.
Namun. Haruskah aku menyaksikan peluh darah menetes dari luka deritaNya? Bukankah derita dan sakitNya juga derita dan sakitku juga?

Ya aku hanyalah hamba sahayaMu.

Kata pun tak cukup mengandung semua misteriMu yang tak terselami. Rasa tak cukup menampung jalanMu yang penuh kelokan liku.

Aku ini hanya hamba sahayaMu yang lemah, mampu apakah aku bagi misteri karyaMu yang gelap penuh?

Aku ini hamba sahayaMu, jadilah padaku menurut kehendakMu, meski sedih dan perih seluruh, kuasaMu lebih kuat daripada gerak bumi seluruh.

Apapun yang terjadi itu, biarlah aku sedekat dan setubuh yang penuh peluh, dan darah di tubuh, tanpa keluh; biarlah rahimku kembali penuh oleh sabdaMu yang berteduh, biarlah air susuku direguk menghilangkan dan mengusap tangis keluh yang tak terucap sungguh.

Aku ini hamba sahayaMu sungguh, yang pernah merasakan manis tangis PuteraMu dalam peluk tidur, dalam gendonganku hangatNya masih kurasa dalam ruh.

Kini peluk dan gendong itu kuberikan padaNya, dalam manis dan hangat darah di luka-lukaNya.

Kini peluk dan gendongku terbuka juga bagiNya dalam duka.

Kini, cium sayangku merengkuh juga deritaNya. Aku satu dalam luka-lukaNya, sebagaimana aku satu dalam tangis kelahiranNya.

Sakit melahirkan Dia, adalah sakit bahagia. Namun kini kutahu, sakit itu pula yang membuat satu dalam deritaNya.

Aku ini hamba sahayaMu ya Tuhan, terjadilah semua itu seturut kehendakMu.

Jangan biarkan rencanaMu terhalang oleh ketakutanku kehilangan Dia.
Jangan biarkan airmata meneteskan duka dusta, yang menggantikan darah penyelamatanNya.

Ya Tuhan, inikah misteri salam malaikatMu dulu?
Inikah jalan menjadi ibu PuteraMu?

Aku ini hamba sahayaMu, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.

-ditulis oleh eMYe-

“Quid est veritas?”

“Quid est veritas?”

Ungkapan Latin di atas merupakan pertanyaan Pilatus pada Yesus. Artinya “Apakah itu kebenaran?”

Yesus tidak menjawab pertanyaan itu. Mengapa?

Bisa jadi karena Yesus tahu bahwa seandainya pun Ia menjawab itu, Pilatus tak akan mengubah jalan Salib yang akan dijalani Yesus.

Atau bisa jadi, Yesus sedang membiarkan Pilatus terombang-ambing oleh pertanyaan itu sendiri. Yesus membiarkan Pilatus mencari jawabannya sendiri.

Bacaan dari Imamat ini mengingatkan bahwa kasih itu diungkapkan terutama dalam keadilan. Mari kita camkan:

“Tuhan berfirman kepada Musa,
“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel
dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri,
janganlah kamu berbohong
dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku,
supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau memeras sesamamu manusia
dan janganlah merampas;
janganlah kautahan upah seorang pekerja harian
sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli,
dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan;
engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah membela orang kecil secara tidak wajar,
dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,
tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah
di antara orang-orang sebangsamu;
janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu,
tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu,
dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu
karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas,
dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu,
melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Tuhan.” (Im 19:1-2.11-18)

Kalau begitu, sudahkah Pilatus mengadili dengan kebenaran ketika hatinya terombang-ambing?

Dalam tradisi filsafat skolastik, kebenaran diterjemahkan sebagai “kesesuaian pengetahuan dengan kenyataan” (adeguatio rei intellectus).

Banyak problem sosial dan relasi dalam keluarga dan sesama dalam masyarakat berakar pada rusaknya keadilan itu.

Ketika kita memandang orang lain bukan sebagai sesama manusia, nah mulailah ketidakadilan itu. Manusia bisa menjadi monster yang siap memakan sesamanya yang lemah, baik lemah secara ekonomi, sosial maupun lemah fisik. Gejala bullying dan kekerasan fisik yang marak itu menandakan ada pola relasi yang terlanjur. rusak tetapi dianggap biasa, bahkan dianggap bagian kultur manusia.

Masih adakah kebenaran itu? Masihkah kita,mencari dan menemukannya? Ataukah kita sebetulnya tidak peduli, dan berpuas diri hidup ikut insting saja? Dimana jatidiri rohani kita sebagai anak-anak Allah, yang mau hidup dalam tuntunan RohNya yakni hidup dalam kasih dan keadilan?

Kasih dan keadilan perlu mulai dari hati dan pikiran .

Salam kasih dan keadilan.
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Blekok

-Cerita Kecil-

Blekok adalah sejenis burung yang biasanya memakan ikan atau kepiting di sawah.

Ketika aku berjalan menyusuri sawah yang hijau, ada suatu hiburan lain ketika melihat burung blekok putih terbang di atas sawah.

Blekok yang berwarna putih itu seperti malaikat penghibur bagiku. Tetapi barangkali bagi kepiting-kepiting sawah, blekok itu adalah malaikat pencabut nyawa.

Ada sawah hijau. Ada air yang melimpah sedang mengairi sawah. Muncul di sawah itu berbagai jenis satwa dari belalang hijau, belalang kayu dan katak-katak. Muncul juga hewan air, kepiting, belut, lintah dan ikan-ikan. Makhluk hidup itu seperti tiba-tiba bermunculan di persawahan yang dialiri air. entah darimana datangnya aku tidak tahu. itu suatu hal yang menakjubkan.

Barangkali itulah yang disebut siklus kehidupan. Ada waktunya ciptaan pergi, ada waktunya ciptaan itu bergilir hadir. Makhluk hidup memang datang dan pergi.

Namun, blekok putih itu menarik perhatianku tersendiri. Dia muncul dengan gagah di tengah sawah. Kadang terbang menukik dan singgah sebentar untuk mengambil mangsa. Lalu terbang lagi, berputar. Singgah lagi, beraksi dengan paruhnya mematuk mangsa yang terlena.

Dia konsisten dengan pola dan geraknya. Dia tidak pura-pura. Dia datang baju putihnya, namun ganas dengan paruhnya.

Diam-diam aku kagum memandangnya.

Bisakah manusia belajar untuk setia dan konsisten terhadap keluhuran hidupnya? Ya, manusia disebut berasal dari debu tetapi dihembusi nafas ilahi. Maka, manusia terus menerus ada dalam tarik menarik antara hidup mengikuti kecenderungan duniawi dan hidup mengikuti kecenderungan roh ilahi. Lalu, konsisten bagi manusia itu barang mahal.

Ada yang menyebut “mencla-mencle” atau “pagi dele, sore tempe”. Hari-hari manusia memang seperti rumput di padang yang terombang-ambing. Begitukah kita?

Eh, betapa celakanya kita kalau terus terombang-ambing. Maka, konsisten untuk menjaga keluhuran itu bukan paket jadi. Manusia diberi kehendak bebas untuk memilih dan menentukan dirinya. Manusia bukan robot. Manusia bukan blekok yang hidup mengikuti insting.

Menjadi manusia itu adalah pilihan kita. Kitalah yang bertanggungjawab atas pilihan hari ini. Pilihan hari ini menentukan keluhuran kita.

Bagaimana itu ya? Yah, latihan menjadi luhur ya dengan mengalahkan kecenderungan insting ego kita. Maka, puasa dan pantang itu salah satu saranya untuk mengalahkan nafsu insting kita. Ada lagi sarana yang positif yakni berdoa, membaca tulisan suci, dan melakukan segala yang baik sebagai perwujudan amal kasih.

Itu semua membantu kita untuk memberi ruang bagi kemerdekaan roh dalam diri kita. Ingat loh, kita bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk rohani.

Ah, betapa enaknya menjadi blekok ya tak hidup dalam ketegangan itu seperti manusia. Tapi blekok pun mempunyai nasibnya sendiri. Kalau ditangkap orang bisa digoreng menjadi teman nasi.ūüėÄ

Bagaimana pun kita bersyukur diberi kebebasan untuk memilih dalam ketegangan tiap hari. Hidup bahagia bagi manusia itu karena ia berani memilih yang luhur. Hidup manusia yang membiarkan diri tanpa berani memilih justru membuat jatidirinya hancur, dan merosot ke dalam lumpur.

Aku pandang blekok itu terbang menjauh. Ia terbang ke selatan, entah kemana. Ia,menghilang di telan awan.

Aku langkahkan kaki pulang, melewati jalan sawah yang berlumpur. Kesegaran kurasakan setelah sepagian itu berjalan di tengah lumpur.

Salam pertobatan
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-

Rabu Abu

-Katekese Singkat-

“Quaresima” & Rabu Abu

Masa persiapan Paskah disebut juga masa Prapaskah. Dalam bahasa Latin disebut “Quaresima” atau “Quadragessima” yang artinya 40 hari sebelum Paskah. Ini mengingatkan juga masa 40 tahun bangsa Israel berada di padang gurun sebelum masuk tanah terjanji.

Bagi kita, masa 40 hari sebagai masa retret pertobatan yang diawali dengan menandai diri kita dengan abu.

Mengapa abu?

Abu mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu dan dihembusi nafas ilahi (Kej. 2:7).

Abu mengingatkan asal manusia yang rendah, tak berharga di mata Tuhan namun Tuhan telah berkenan mengangkatnya. Maka, berkat Roh Allah yang menghidupkan, manusia itu pada hakekatnya luhur dan mulia.

Meskipun manusia terikat pada debu sebagai asalnya, namun manusia mampu menempatkan keterikatan itu secara tidak mutlak. Semua keterikatan pada dunia itu sarana bagi kita untuk hidup memuliakan Allah.

Nah, dalam rangka itu, doa, puasa dan amal kasih menjadi latihannya.

Pantang dan puasa adalah sarana latihan untuk tidak melulu tergantung pada pemenuhan kebutuhan makan dan minum.

Doa adalah sarana latihan untuk terus menerus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Doa adalah sikap keterbukaan untuk mengikuti tuntunan Roh Allah. Ingat, kita hidup karena diberi nafas ilahi.

Amal kasih adalah sarana hidup selaras dengan kehendak Allah. Apa kehendak Allah itu? Kehendak Allah itu hanya mengasihi. Jadi kalau mau selaras dengan kehendakNya, hiduplah dalam jalan kasih. Sebab, Allah itu kasih! “Deus caritas est.”

Jadi masa Prapaskah adalah mssa kita kembali pada Allah, pada jati diri kita sebagai makhluk rohani, dan sebagai anak-anak Allah.

Abu mendai pengakuan diri kita yang rendah, melulu bergantung pada roh Allah. Tidak ada sikap tobat yang tepat kecuali merendahkan diri kita.

Selamat menjalani padang gurun pertobatan kita agar masuk kembali menjadi bagian dari anak-anak Allah yang akan kita rayakan pada Paskah nanti.

“Gloria Dei, vivens homo” (St. Ireneus). Allah dimuliakan ketika kita sungguh hidup sebagai manusia. Maka, semakin manusiawi, semakin ilahi.

Salam pertobatan
eMYe

ditulis oleh eMYe –

Wedang Ronde

-Cerita Kecil-

Semalam rame-rame diajak ngeronde. Apa sih asyiknya minum wedang ronde? Di tepi jalan lagi?

Wedang ronde itu minuman hangat dari jahe dengan gula merah manis yang ditambah sesuatu yang khas, yakni bola sagu isi kacang. Bila di minum malam-malam akan menambah kehangatan tubuh.

Ah, minum manis malam-malam gak bagus untuk diet. Iya sih, tapi aku tidak bisa melewatkan kehangatan lain, yakni perjumpaan dengan teman-teman.

Nah, asyiknya minum ronde itu memberi kehangatan persaudaraan itu.

Ya, semua rindu persaudaraan. Apalagi di tengah jaman yang digerus serba mesin dan digital, bahkan di lingkungan suci pelayanan gereja, persaudaraan bisa mudah retak oleh perkara sepele. Ladang pelayanan bisa menjadi ladang perseteruan.

Mengapa itu mudah terjadi bahkan di lingkup keluarga? Barangkali karena kita terjebak dalam dinamika kerja seperti mesin. Pelayanan juga masuk ke mesin. Harus ada out put yang bisa diukur. Semua lalu kejar hasil, mesti hati dikorbankan dan menjadi kerdil. Hilang waktu dan kesempatan duduk bersama untuk sekedar bercengkerama. Kalau bertemu toh hanya sekedar tanya hasil kerjanya.

Kalau toh ada, itu pun barangkali sambil meringis menjawab tanya kapan lagi rapat kerja ? Kapan selesai targetnya? Sampai dimana urusannya?

Kapan hati kita saling menyapa dan disapa? Ah, pertanyaan sok suci ini. Itu kekanak-kanakan. Dunia dewasa itu kerja, produktif gitu. Jangan melankolis. Manja ah…

Tentu bukan salah juga itu. Memang dunia mesin selalu dituntun hasil. Bermelo-melo, apalagi bisa nongkrong minum wedang ronde ah itu buang waktu gue.

Hmm…perjumpaan yang otentik memang sering terjadi di momen yang dianggap “buang waktu”. Di saat kita bisa rileks, tertawa dan menangis dengan bebas.

Hari-hari kita itu seperti bunga di padang. Pagi mekar, sore bisa cepat layu. Tetapi berbahagialah yang bisa menangkap singkatnya waktu. Kesementaraan itu berharga justru ketika aku dan kamu, kita semua, bisa hidup mekar sepenuh kalbu. Bunga mekar memberi keindahan dalam singkatnya waktu. Persaudaraan kita memberikan sukacita dalam sementaranya hidup di dunia kita.

Berbahagialah yang setia dalam karya-karya yang baik dan dalam pelayanan, meskipun ketidaksempurnaan dan kelemahan sering membuat kita kecewa.

Salam kasih persaudaraan.

eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Laba Laba Hijau

-Cerita Kecil-

Pagi itu aku berangkat ke kebun belakang. Aku mau membantu yang bertugas merawat kebun.

Aku pilih sepetak kebun sayuran. Aku dengan pelan mulai mencangkuli, membersihkan rumput liar yang sudah tinggi.

Eh, ternyata aku masih bisa mencangkul lohūü§£. Tangan tidak lecet juga. Tetapi setelah satu petak cukup bersih, aku mulai berkeringat banyak. Pandangan kunang-kunang. Ah harus istirahat dulu nih, kataku. Sambil mengusap keringat, aku pandang sekeliling.

Tiba-tiba aku terkejut melihat apa yang di depan mataku. Seekor laba-laba hijau sebesar ibu jari sedang nongkrong di jaring tengahnya.

Waduh, kalau wajahku nabrak dia, apa jadinya nih, aku berkata dengan diriku sendiri. Untung tidak kena.

Lalu kuamati dia. Hijau campur hitam, ada putih peraknya. Sedang apa ya? Tidurkah? Heran juga, orang sibuk di dekatnya kok merasa tidak terusik. Tetap diam bertengger di sarang yang berupa jaring-jaring yang menghubungkan dari daun yang satu ke daun tanaman yang lain. Tak terusik.

Barangkali dia sedang menunggu mangsa masuk ke jejaring jebakannya, sehingga ia bisa memakannya. Lah, emang aku sedang dijebak? Haha, mosok orang bisa dijebak laba-laba. Akulah yang akan lebih dahulu meremukkannya.

Ah, tapi kuurungkan niatku. Laba-laba itu mungkin menjebak nyamuk kebun. Itulah makanannya.

Kulihat lagi. Kuamati. Aku jadi ingat pengalaman: dulu aku pernah kena cairan yang dikeluarkan laba-laba. Waktu itu persis jatuh di wajahku. Panas rasanya di kulit. Sembuhnya lama, dan meninggalkan bekas seperti luka bakar.

Kuusap wajahku. Ah, syukur tidak kena semprotan laba-laba lagi. Tetapi sayang wajahku kena lumpur tanah basah yang menempel di tangan.

Alam yang indah itu ternyata juga menyimpan hal yang menakutkan. Selalu ada predator yang siap memangsa yang lemah. Laba-laba memangsa nyamuk dan serangga yang lain.

Alam manusia juga tida sepi dari predator. Instinct kebinatangan manusia pada dasarnya untuk sekedar upaya survival juga. Tetapi apakah manusia hidup hanya sekedar untuk survive? Kalau hanya untuk mempertahankan hidup, apa bedanya manusia dengar binatang di alam bebas ini?

Apakah manusia membangun jejaring pertemanan untuk mendapatkan mangsa yang lebih lemah? Apakah membangun persaudaraan dan solidaritas hanya untuk membesarkan daya predatornya lebih hebat?

Laba-laba hijau di kebun itu memang gagah dan anggun, tetapi manusia lebih daripada laba-laba itu. Manusia nisa membangun jejaring pertemanan dan persaudaraan bukan untuk menjadi predator. Manusia bersahabat karena manusia mampu mencintai, mengasihi, menghibur, saling dan membantu. Jejaring kasih manusia itu menguatkan yang lemah dan tak berdaya, bukan malahan memperdaya.

“Apa yang kaulakukan pada yang paling lemah, kau lakukan itu padaKu.” (bdk.Mt 25:40)

Jadi kalau kita menindas yang lemah, kita melakukan itu pada Tuhan sendiri.

Kuingat kata-kata Yesus itu. Kubawa dalam hati. Manusia itu bukan predator. Manusia itu “co-creator” dan “co-lover” (rekan sekerja Allah yang mencipta dan mengsihi seluruh alam ciptaanNya).

Salam kasih sayang.
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-

Norma Moral Kristiani

-Katekese Singkat-

Iman tanpa moral itu kosong. Iman tanpa perbuatan (baik) itu mati (Yakobus).

Di tengah arus kebebasan, berbicara tentang norma atau hukum cenderung tidak enak. Konotasi norma dan hukum cenderung membatasi kebebasan. Ini tentu tidaklah salah.

Adanya norma itu karena kebutuhan hidup bersama. Manusia tidak hidup sendiri. “No man is an island.” Maka, norma dibutuhkan agar hidup bersama tidak menjadi liar dan saling merusak apalagi saling menghancurkan. Maka, dalam arti itu norma memang membatasi kebebasan seseorang demi tercapainya tujuan hidup bersama yang damai, adil dan saling menghargai.

Jadi tujuan adanya norma adalah kepentingan dan kebaikan bersama. Norma yang tidak menjamin kebaikan bersama pada dasarnya kehilangan daya ikatnya.

Ada 4 ciri norma moral dalam Gereja Katolik:
(1). Norma itu mesti dapat diterima akal sehat (reasonable).
(2). Norma itu dinyatakan secara publik (promulgated).
(3). Norma itu diumumkan oleh pihak yang memiliki otoritas moral (pemimpin Gereja) sehingga menjadi ajaran resmi.
(4). Norma itu untuk kepentingan dan kebaikan umum bukan individual (for the common good).

Arti kata norma sendiri adalah ukuran atau pegangan yang bisa dipakai untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Karena sifatnya publik dan resmi, maka norma itu mengikat kepentingan bersama.

Nah norma moral itu apa? Norma moral itu ukuran atau pegangan yang dipakai untuk menuntun hidup orang di jalan yang baik sesuai ajaran iman Katolik. Singkatnya, norma moral itu ukuran untuk menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk.

Contoh norma moral Kristiani adalah Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments atau Dekalog) Yang diringkaskan sebagai Hukum Kasih (Cintailah Tuhan Allahmu dan sesamamu) seperti yang diajarkan Kristus.

Dari situ, Gereja merumuskan ajaran moral yang menjawab situasi dan tantangan jaman. Norma moral terus berkembang, tetapi jiwa dan semangatnya tetap sama yakni ajaran cinta kasih yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Maka bagi kita, Yesus Kristus adalah sumber dari segala norma moral.

Syalom
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

DEKALOG

-Katekese Singkat-

Dekalog artinya “Sepuluh Sabda” yang juga dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah. Musa menuliskan Sepuluh Sabda itu ke dalam loh batu yang kemudian disimpan dan dihormati sebagai dalam Tabut Perjanjian. Tuhan Allah hadir di dalam sabdaNya itu.

Allah yang dialami sebagai Allah Penyelamat ingin agar rahmat keselamatan itu dijaga dalam umatNya. Tanpa rahmat keselamatan itu umat akan terceraiberai dan mengalami kehancuran. Oleh karena itu Allah memberikan Dekalog kepada Musa agar menjadi pegangan dalam menjaga rahmat keselamatan itu.

Isinya apa? Setiap orang Katolik mestinya sudah tahu ini sebagai hukum kasih yang bisa dikelompokkan dalam pilar-pilar hidup bersama sebagai Umat Allah.

Pilar Pertama/ Dasar : Hormat pada Allah

Kepercayaan pada Allah dan mengandalkan Allah merupakan dasar hidup orang beriman (perintah 1, 2 dan 3).

1. Hormatilah Aku Tuhan Allahmu. Sembahlah Aku sebagai satu-satunya Allah yang menyelamatkanmu.

2. Jangan menyebut nama Tuhan tanpa rasa hormat.

3. Hormatilah Hari Tuhan.

Ketiganya ini sebagai hukum yang erat kaitannya. Menghormati Tuhan nyata juga dalam sikap bakti kita kepadaNya. Sikap bakti menumbuhkan rasa hormat akan nama dan kuasaNya. Maka, aneh apabila orang mengaku percaya akan Tuhan tetapi tidak memiliki sikap bakti kepadaNya. Beriman kepadaNya berarti juga hidup dalam sikap bakti kepadaNya. Sikap bakti itulah yang mengungkapkan cinta kita padaTuhan.

Pilar Kedua: Hormat pada Kehidupan

Pilar kedua (perintah 4 dan 5) merupakan pilar penting untuk keberlangsungan hidup manusia dan umat. Tanpa pilar ini semua relasi antar manusia pada dasarnya kehilangan dasarnya (raison d’etre).

4. Hormatilah ibu bapamu

5.Jangan membunuh

Menghormati orangtua yang melahirkan kita juga berarti menghormati hidup yang diberikan Tuhan. Hormat terhadap sesama yang paling hakiki adah hormat pada pribadi dan hidupnya. Oleh karena, membunuh merupakan pelanggaran berat.

Pilar Ketiga: Hormat atas Pribadi & Jatidiri Orang

Lebih konkret lagi, prioritas hormat pada sesama dinyatakan pada sikap menghargai pribadinya. Sebab setiap pribadi merupakan gambaran Allah (citra Allah, Kej. 1:6-7). Ini termuat pada perinta ke-6 dan ke-9).

6. Jangan berzinah;

9. Jangan mengingini isteri/suami orang lain.

Menghormati pribadi setiap orang menuntun pada perlakuan yang yang adil pada martabatnya. Hormat pada realitas bahwa kita diciptakan sebagai manusia yang konkret, laki-laki dan perempuan ataupun kenyataan seksualitas yang lain.

Siapapun dia dengan segala kecenderungan seksualitasnya adalah ciptaan Tuhan dan pantas dihormati. Setiap tindak pelecehan berarti merendahkan Tuhan sendiri. Setiap pribadi itu suci, siapa pun dia. Dosa merendahkan martabat orang lain sama saja merendahkan martabat diri sendiri.

Pilar Keempat: Hormat atas Hak Milik

Setiap orang memiliki hak-hak yang sama, termasuk hak milik untuk kebutuhan hidupnya. Pilar ini meliputi perintah 7 dan 10.

7. Jangan mencuri;

10. Jangan mengingini harta milik orang lain.

Pemenuhan hak milik pribadi tidak boleh sampai merusak atau bahkan merampas hak milik pribadi orang lain. Mengambil hak milik orang itu merupakan ketidakadilan, yang merusak rasa hormat pada sesama.

Pilar Kelima: Kejujuran

Memelihara dan membangun kehidupan bersama mesti dengan semangat ketulusan dan kejujuran. Maka, pilar ini tidak bisa diabaikan dalam hidup bersama kita. Ini dirumuskan dalam perintah ke-8.

8. Jangan bersaksi dusta

Hidup bersama tidak bisa dibangun atas dasar dusta. Kalau dengan dusta kita membangun relasi, maka relasi itu rapuh. Dusta itu rapuh bahkan bisa menghancurkan diri sendiri. Tetapi kejujuran itu teguh.

Oleh karena itu, kejujuran perlu menjadi keutamaan atau kekuataan moral kita dalam beriman. Agar menjadi keutamaan moral kejujuran perlu dipupuk sebagai kebijaksanaan. Jujur tidak sama dengan polos. Jujur itu mendengarkan suara hati yang mau melindungi martabat kita sebagai manusia, citra Allah.

Semoga ini berguna bagi kita untuk terus setia memelihara rahmat keselamatan kita yang sudah kita terima melalui Yesus Kristus.

Doa Singkat:

“Selamatkanlah kami Ya Tuhan dari tangan mereka yang masih membenci kami, ya Tuhan. Tuntunlah kami di jalan kasihMu, dalam Kristus Yesus, Pengantara kami. Amin. “

Salam,
eMYe

-ditulis oleh eMYe-