Doa Maria Saat Yesus Menderita

-Kontemplasi-

(Di sudut biliknya, Maria terpaku diam dalam doa, setelah mendengar berita Yesus ditangkap. Batinnya bergumul dalam diam, dalam doa.)

Ya Tuhan, inikah misteriMu yang harus kukandung terus, melihat PuteraMu didera berbagai hasutan dan pengkhianatan, penolakan oleh bangsaku sendiri.

Kuingat kembali salam malaikat dulu kepadaku, yang kini terasa seperti sebilah belati menusuk hatiku pedih.
Aku telah menjawabnya, ya aku ini hambaMu, seluruh diriku milikMu.
Namun. Haruskah aku menyaksikan peluh darah menetes dari luka deritaNya? Bukankah derita dan sakitNya juga derita dan sakitku juga?

Ya aku hanyalah hamba sahayaMu.

Kata pun tak cukup mengandung semua misteriMu yang tak terselami. Rasa tak cukup menampung jalanMu yang penuh kelokan liku.

Aku ini hanya hamba sahayaMu yang lemah, mampu apakah aku bagi misteri karyaMu yang gelap penuh?

Aku ini hamba sahayaMu, jadilah padaku menurut kehendakMu, meski sedih dan perih seluruh, kuasaMu lebih kuat daripada gerak bumi seluruh.

Apapun yang terjadi itu, biarlah aku sedekat dan setubuh yang penuh peluh, dan darah di tubuh, tanpa keluh; biarlah rahimku kembali penuh oleh sabdaMu yang berteduh, biarlah air susuku direguk menghilangkan dan mengusap tangis keluh yang tak terucap sungguh.

Aku ini hamba sahayaMu sungguh, yang pernah merasakan manis tangis PuteraMu dalam peluk tidur, dalam gendonganku hangatNya masih kurasa dalam ruh.

Kini peluk dan gendong itu kuberikan padaNya, dalam manis dan hangat darah di luka-lukaNya.

Kini peluk dan gendongku terbuka juga bagiNya dalam duka.

Kini, cium sayangku merengkuh juga deritaNya. Aku satu dalam luka-lukaNya, sebagaimana aku satu dalam tangis kelahiranNya.

Sakit melahirkan Dia, adalah sakit bahagia. Namun kini kutahu, sakit itu pula yang membuat satu dalam deritaNya.

Aku ini hamba sahayaMu ya Tuhan, terjadilah semua itu seturut kehendakMu.

Jangan biarkan rencanaMu terhalang oleh ketakutanku kehilangan Dia.
Jangan biarkan airmata meneteskan duka dusta, yang menggantikan darah penyelamatanNya.

Ya Tuhan, inikah misteri salam malaikatMu dulu?
Inikah jalan menjadi ibu PuteraMu?

Aku ini hamba sahayaMu, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.

-ditulis oleh eMYe-

“Quid est veritas?”

“Quid est veritas?”

Ungkapan Latin di atas merupakan pertanyaan Pilatus pada Yesus. Artinya “Apakah itu kebenaran?”

Yesus tidak menjawab pertanyaan itu. Mengapa?

Bisa jadi karena Yesus tahu bahwa seandainya pun Ia menjawab itu, Pilatus tak akan mengubah jalan Salib yang akan dijalani Yesus.

Atau bisa jadi, Yesus sedang membiarkan Pilatus terombang-ambing oleh pertanyaan itu sendiri. Yesus membiarkan Pilatus mencari jawabannya sendiri.

Bacaan dari Imamat ini mengingatkan bahwa kasih itu diungkapkan terutama dalam keadilan. Mari kita camkan:

“Tuhan berfirman kepada Musa,
“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel
dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri,
janganlah kamu berbohong
dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku,
supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau memeras sesamamu manusia
dan janganlah merampas;
janganlah kautahan upah seorang pekerja harian
sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli,
dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan;
engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah membela orang kecil secara tidak wajar,
dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,
tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah
di antara orang-orang sebangsamu;
janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu,
tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu,
dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu
karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas,
dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu,
melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Tuhan.” (Im 19:1-2.11-18)

Kalau begitu, sudahkah Pilatus mengadili dengan kebenaran ketika hatinya terombang-ambing?

Dalam tradisi filsafat skolastik, kebenaran diterjemahkan sebagai “kesesuaian pengetahuan dengan kenyataan” (adeguatio rei intellectus).

Banyak problem sosial dan relasi dalam keluarga dan sesama dalam masyarakat berakar pada rusaknya keadilan itu.

Ketika kita memandang orang lain bukan sebagai sesama manusia, nah mulailah ketidakadilan itu. Manusia bisa menjadi monster yang siap memakan sesamanya yang lemah, baik lemah secara ekonomi, sosial maupun lemah fisik. Gejala bullying dan kekerasan fisik yang marak itu menandakan ada pola relasi yang terlanjur. rusak tetapi dianggap biasa, bahkan dianggap bagian kultur manusia.

Masih adakah kebenaran itu? Masihkah kita,mencari dan menemukannya? Ataukah kita sebetulnya tidak peduli, dan berpuas diri hidup ikut insting saja? Dimana jatidiri rohani kita sebagai anak-anak Allah, yang mau hidup dalam tuntunan RohNya yakni hidup dalam kasih dan keadilan?

Kasih dan keadilan perlu mulai dari hati dan pikiran .

Salam kasih dan keadilan.
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Blekok

-Cerita Kecil-

Blekok adalah sejenis burung yang biasanya memakan ikan atau kepiting di sawah.

Ketika aku berjalan menyusuri sawah yang hijau, ada suatu hiburan lain ketika melihat burung blekok putih terbang di atas sawah.

Blekok yang berwarna putih itu seperti malaikat penghibur bagiku. Tetapi barangkali bagi kepiting-kepiting sawah, blekok itu adalah malaikat pencabut nyawa.

Ada sawah hijau. Ada air yang melimpah sedang mengairi sawah. Muncul di sawah itu berbagai jenis satwa dari belalang hijau, belalang kayu dan katak-katak. Muncul juga hewan air, kepiting, belut, lintah dan ikan-ikan. Makhluk hidup itu seperti tiba-tiba bermunculan di persawahan yang dialiri air. entah darimana datangnya aku tidak tahu. itu suatu hal yang menakjubkan.

Barangkali itulah yang disebut siklus kehidupan. Ada waktunya ciptaan pergi, ada waktunya ciptaan itu bergilir hadir. Makhluk hidup memang datang dan pergi.

Namun, blekok putih itu menarik perhatianku tersendiri. Dia muncul dengan gagah di tengah sawah. Kadang terbang menukik dan singgah sebentar untuk mengambil mangsa. Lalu terbang lagi, berputar. Singgah lagi, beraksi dengan paruhnya mematuk mangsa yang terlena.

Dia konsisten dengan pola dan geraknya. Dia tidak pura-pura. Dia datang baju putihnya, namun ganas dengan paruhnya.

Diam-diam aku kagum memandangnya.

Bisakah manusia belajar untuk setia dan konsisten terhadap keluhuran hidupnya? Ya, manusia disebut berasal dari debu tetapi dihembusi nafas ilahi. Maka, manusia terus menerus ada dalam tarik menarik antara hidup mengikuti kecenderungan duniawi dan hidup mengikuti kecenderungan roh ilahi. Lalu, konsisten bagi manusia itu barang mahal.

Ada yang menyebut “mencla-mencle” atau “pagi dele, sore tempe”. Hari-hari manusia memang seperti rumput di padang yang terombang-ambing. Begitukah kita?

Eh, betapa celakanya kita kalau terus terombang-ambing. Maka, konsisten untuk menjaga keluhuran itu bukan paket jadi. Manusia diberi kehendak bebas untuk memilih dan menentukan dirinya. Manusia bukan robot. Manusia bukan blekok yang hidup mengikuti insting.

Menjadi manusia itu adalah pilihan kita. Kitalah yang bertanggungjawab atas pilihan hari ini. Pilihan hari ini menentukan keluhuran kita.

Bagaimana itu ya? Yah, latihan menjadi luhur ya dengan mengalahkan kecenderungan insting ego kita. Maka, puasa dan pantang itu salah satu saranya untuk mengalahkan nafsu insting kita. Ada lagi sarana yang positif yakni berdoa, membaca tulisan suci, dan melakukan segala yang baik sebagai perwujudan amal kasih.

Itu semua membantu kita untuk memberi ruang bagi kemerdekaan roh dalam diri kita. Ingat loh, kita bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk rohani.

Ah, betapa enaknya menjadi blekok ya tak hidup dalam ketegangan itu seperti manusia. Tapi blekok pun mempunyai nasibnya sendiri. Kalau ditangkap orang bisa digoreng menjadi teman nasi.ūüėÄ

Bagaimana pun kita bersyukur diberi kebebasan untuk memilih dalam ketegangan tiap hari. Hidup bahagia bagi manusia itu karena ia berani memilih yang luhur. Hidup manusia yang membiarkan diri tanpa berani memilih justru membuat jatidirinya hancur, dan merosot ke dalam lumpur.

Aku pandang blekok itu terbang menjauh. Ia terbang ke selatan, entah kemana. Ia,menghilang di telan awan.

Aku langkahkan kaki pulang, melewati jalan sawah yang berlumpur. Kesegaran kurasakan setelah sepagian itu berjalan di tengah lumpur.

Salam pertobatan
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-